Kamis, 24 Desember 2015

CONTOH SI L A B U S



Nama Sekolah             : MA PPMI Assalaam
Mata Pelajaran             : FIQIH
Kelas / Program                       : X (Sepuluh)
Semester                      : 1 (Gasal)
Standar Kompetensi     : pelaksanaan sholat sunnat

Kompetensi Dasar
Materi Pokok / Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Indikator
Penilaian
Waktu
Sumber Belajar
Jenis
Tagihan
Bentuk Instrumen
1
2
3
4
5
6
7
8
1.   Menjelaskan tentang shalat sunnat
·    Shalat Sunnat
·    Kajian pustaka tentang dasar hukum shalat sunnat serta macam-macam shalat sunnat

·    Mendiskusikan pelaksanaan shalat sunnat
·    Mampu menjelaskan dasar hukum shalat sunnat
·    Mampu menyebutkan macam-macam shalat sunnat
·    Mampu menjelaskan pelaksanaan shalat sunnat
Tes tertulis dan praktek
Obyektif
2 x 40’
·    Al Qur’an dan terjemah
·    Fiqih Sunnah Oleh Sayyid Sabiq
·    Fiqih klas X oleh Depag Jateng
·    Fikih Madrasah Aliyah oleh PT. Karya Toha Putra
·    Al Mulakhhosul Fiqhy oleh Dr. Sholeh bin Fauzan Riyadh


Sangatta,     oktober 2011
Mengetahui,
Kepala Sekolah






__________________
Penyusun







                              ......................................

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN




LANGKAH2 PEMBELAJARANMATA PELAJARAN           : Fiqh
KELAS/SEMESTER             : XI/ 1.
PERTEMUAN KE                : 2( dua)
ALOKASI WAKTU             : 1 x 40 Menit
STANDAR KOMPETENSI :
1. Memahami  larangan  riba
KOMPETENSI DASAR       :
1.      Menjelaskan pengertian  riba.
2.      Menjelaskan hikmah dari larangan riba

Memahami Landasan Teori Penelitian Kualitatif




A.     Pengertian landasan teori penelitian kualitatif
Landasan teori penelitian kualitatifPada dasar-nya landasan teoritis penelitian kualitatif bertumpu secara mendasar pada fenomenologi dijadikan sebagai dasar teori utama dan lainnya ; interaksi simbolik, kebudayaan, dan etnometodologi dijadikan sebagai dasar tambahan yang melatarbelakangi secara teoritis penelitian ini.
Seorang peneliti biasanya berdasar pada teori yang sudah ada,

Bentuk Dan Model Catatan Lapangan




Bentuk Dan Model Catatan  Lapangan
A.    Definisi Catatan Lapangan
Catatan lapangan terdiri dari dua suku kata, yakni catatan dan lapangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “catatan“ mengandung arti; hasil pencatatatan; peringatan. Sedangkan kata “lapangan” sebagai bentuk kata benda mengandung tiga arti, yakni tempat atau tanah yang luas (biasanya rata); alun-alun; medan; tempat (gelanggang) pertandingan (bulutangkis, bola voli, bola basket); atau bidang (pekerjaan, pengetahuan, dan sebagainya), (Pusat Bahasa,2008). Catatan lapangan secara bahasa berarti hasil mencatat suatu bidang pengetahuan.

Metode penelitian kualitatif


Penelitian


PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI “ANTASARI” BANJARMASIN
APRIL 2010

Pendahuluan

Kecenderungan dewasa ini penelitian kualitatif semakin mendapat tempat di hati para peneliti karena beberapa alasan yang antara lain bahwa ilmu-ilmu fisik memang dapat ditentukan di laboratorium karena memiliki uniformitas fisis yang tetap, sebaliknya perilaku sosial merupakan gejala unik yang uniformitasnya tidak dapat ditentukan sebelumnya; selain itu tingkah laku sosial terdapat bukan hanya seperangkat penilaian yang seragam tetapi setumpuk kecenderungan, kepentingan dan cita-cita yang kacau dan saling bersaingan; akhirnya dunia ini merupakan sesuatu yang komplek dan ganda. Pendekatan kuantitatif terasa ada ketidak sesuaian paradigma untuk menangani masalah-masalah empiris sosial seperti ini. Muncullah paradigma baru yakni pendekatan kualitatif.

Rabu, 23 Desember 2015

Rasionalisme dan idealisme



            I    
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
FILSAFATMemahami sistem filsafat sesungguhnya menelusuri  dan mengkaji suatu pemikiran mendasar dan tertua yang  mengawali kebudayaan manusia. Suatu sistim, filsafat berkembang berdasarkan ajaran seorang atau beberapa orang tokoh pemikir filsafat. Sistem filsafat sebagai suatu masyarakat atau bangsa. Sistem filsafat amat ditentukan oleh potensi dan kondisi masyarakat atau bangsa itu, tegasnya oleh kerjasama faktor dalam dan faktor luar.

Agama dan motivator





Motivator
A.Agama sebagai motifator dan tindakan sosial
Berbicara tentang agama memamg sangat luas cakupanya memerlukan suatu sikap ekstra hati-hati ,karena meskipun masalah agama merupakan masalah sosial ,tetapi penghayatanya amat bersifat individual.Apa yang dihayati dan dipahami sebagai agama oleh seorang,akan tergantung dari latar belakang dan kepribadiaan seseorang tersebut.Hal ini akan memacu adanya sustu perbedaan titik tekan penghayataan dari satu orang kepada orang lain,dan membuat agama menjadi bagian yang sanagat mendalam dari kepribadiaan atau privacy seseorang.Oleh karena itu agama menjadi faktor utama dan bersangkutan dengan kepekaan emosional.Meskipun demikian masih ada